Masuk SD Harus Bisa Baca, Tulis & Hitung?

Baca tulis hitung (calistung), wajibkah dimasukkan dalam kurikulum preschool atau TK? Ada beberapa yang berpendapat bahwa calistung sebaiknya jangan dijadikan materi pelajaran untuk anak usia pra sekolah. Namun ada yang berpendapat perlu. Bagaimana sebaiknya?

les privat calistung

Sebagai orangtua, Anda patut was-was jika ada Sekolah Dasar (SD) yang menjadikan kemampuan calistung sebagai syarat wajib untuk masuk ke sekolahnya. Itu berarti, sekolah tersebut kurang memahami tahapan perkembangan anak mulai dari usia 0-6 tahun.

Dijelaskan praktisi pendidikan Najelaa Shihab, calistung memang merupakan pelajaran yang harus diajarkan di TK bahkan sebelum ia masuk lembaga pendidikan. Namun pelajaran itu tidak selalu dalam bentuk hitung-hitungan matematika atau membaca buku. Ia pun setuju dengan anggapan sejumlah orang untuk tidak memasukkan anak ke sekolah dasar yang mewajibkan bisa calistung.

“Saya setuju, memang bukan tugas perkembangan anak 6 tahun untuk bisa menulis dan menghitung. Kalau misalnya ada sekolah yang mengharuskan itu, berarti sekolah tersebut tidak tahu perkembangan anak,” tegas Elaa.

Presiden Direktur Sekolah Cikal ini juga menjelaskan bahwa belajar calistung sebenarnya sudah dimulai dari anak kita lahir. Setiap harinya, mereka bertemu dengan hitungan dan bacaan dalam bentuk kegiatan sehari-hari. Misalnya saat menyuapi anak makan, sang ibu bisa berkata seperti, “ini satu sendok untuk kamu, satu sendok buat mama ya”. Bisa juga menunjuk pada tulisan atau gambar saat berjalan-jalan ke tempat rekreasi atau mall bersama anak.

“Calistung harus, tapi pemahaman tentang skill menulis itu apa? Anak belajar memakai baju, mengancingkan kemeja itu juga bisa dibilang belajar menulis. Karena gerakan jari-jari saat memasang kancing itu kan melatih otot halusnya dia,” tutur Najelaa kepada wolipop, ditemui di Four Seasons Hotel, Kuningan, Jakarta, Kamis (10/5/2012).

Cara pengajaran yang salah adalah, menyuruh anak usia pra sekolah untuk duduk di kursi dan memintanya untuk membaca dan menghitung. Kesalahan kedua adalah mengharuskan si anak bisa membaca, menghitung dan menulis di usia itu.

“Itu bukan cara belajar yang tepat untuk anak-anak pra sekolah karena bukan tugas perkembangan anak untuk sudah bisa di usia itu. Ada memang anak yang bisa tapi ada pula yang belum. Dan anak-anak yang belum bisa itu bukan berarti lebih bodoh dari anak yang bisa. Karena kita bicara soal perkembangan,” tutur lulusan Psikologi Universitas Indonesia ini.

Sebelum seorang anak bisa menulis, dia harus bisa mengancingkan pakaian. Sebelum bisa menggambar, anak harus bisa membuat garis lurus terlebih dahulu. Jika anak belum bisa mengontrol jari-jarinya kemudian langsung dipaksa untuk menulis hanya akan membuat anak stres dan melawan.

Sumber: wolipop.com

Related posts: